DETEKSI DINI PADA KASUS BBLR HIPOTERMI / HIPOTERMIA
DETEKSI DINI PADA KASUS BBLR HIPOTERMI / HIPOTERMIA
DAN GANGGUAN PERNAFASAN
A. DETEKSI DINI PADA KASUS BBLR HIPOTERMI / HIPOTERMIA DAN GANGGUAN PERNAFASAN
DETEKSI DINI KASUS BBLR
1. Pengertian
Bayi lahir dengan bayi berat lahir rendah (BBLR) merupakan salah satu factor resiko yang mempunyai kontribusi terhadap kematian bayi khususnya pada masa perinatal. Selain itu bayi berat lahir rendah dapat mengalami gangguan mental dan fisik pada usia tumbuh kembang selanjutnya, sehingga membutahkan biaya perawatan yang tinggi.
Bayi berat lahir rendah (BBLR) adalah salah satu hasil dari ibu hamil yang menderita energy kronis dan akan mempunyai status gizi buruk. BBLR berkaitan dengan tingginya angka kematian bayi dan balita, juga dapat berdampak serius pada kualitas generasi mendatang, yaitu akan memperlambat pertumbuhan dan perkambangan anak, serta berpengaruh pada penurunan kecerdasan.
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi dengan berat badan lahir kurang dari 2500 gram (Arief, 2009).
Bayi berat lahir rendah (BBLR) ialah bayi baru lahir yang berat badannya saat lahir kurang dari 2500 gram (sampai dengan 2499 gram) (Sarwono).
Dahulu bayi baru lahir yang berat badan lahir kurang atau sama dengan 2500 gram disebut premature. Untuk mendapatkan keseragaman pada kongres European Perinatal Medicine II di London (1970), telah disusun definisi sebagai berikut :
a. Preterm infant (premature) atau bayi kurang bulan : bayi dengan masa kehamilan kurang dari 37 minggu (259 hari)
b. Term infant atau bayi cukup bulan : bayi dengan masa kehamilan mulai 37 minggu sampai dengan 42 minggu (259-293 hari)
c. Post term atau bayi lebih bulan : bayi dengan masa kehamilan mulai 42 minggu atau lebih (294 hari atau lebih).
2. Etiologi
Penyebab terbanyak terjadinya BBLR adalah kelahiran premature. Faktor ibu yang lain adalah umur, parietas, dan lain-lain. Faktor plasenta seperti penyakit vaskuler, kehamilan kembar/ganda, serta factor janin juga merupakan penyebab terjadinya BBLR.
BBLR dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:
Faktor Ibu
a. Penyakit:
· Toksemia gravidarum
· Perdarahan antepartum
· Truma fisik dan psikologis
· Nefritis akut
· Diabetes mellitus
b. Usia Ibu
· Usia < 16 tahun
· Usia > 35 tahun
· Multigravida yang jarak kelahirannya terlalu dekat
c. Keadaan sosial
· Golongan social ekonomi rendah
· Perkawinan yang tidak sah
d. Sebab lain
· Ibu yang perokok
· Ibu peminum alcohol
· Ibu pecandu narkotik
Faktor janin
· Hidramnion
· Kehamilan ganda
· Kelainan kromosom
Faktor lingkungan
· Tempat tinggal dataran tinggi
· Radiasi
· Zat-zat racun
3. Tanda dan gejala
Gambaran klinis BBLR secara umum adalah :
· Berat kurang dari 2500 gram
· Panjang kurang dari 45 cm
· Lingkar dada kurang dari 30 cm
· Lingkar kepala kurang dari 33 cm
· Umur kehamilan kurang dari 37 minggu
· Kepala lebih besar
· Kulit tipis, transparan, rambut lanugo banyak, lemak kurang
· Otot hipotonik lemah
· Pernapasan tak teratur dapat terjadi apnea
· Eksremitas : paha abduksi, sendi lutut / kaki fleksi – lurus
· Kepala tidak mampu tegak
· Pernapasan 40 – 50 kali / menit
· Nadi 100 – 140 kali / menit
Gambaran klinis BBLR secara khusus :
a. Tanda – tanda Bayi Prematur
1) BB kurang dari 2500 gr, PB kurang dari 45 cm, lingkar kepala kurang dari 33 cm, lingkar dada kurang 30 cm.
2) Umur kehamilan kurang dari 37 mg.
3) Kepala relatif lebih besar dari pada badannya.
4) Rambut tipis dan halus, ubun – ubun dan sutura lebar.
5) Kepala mengarah ke satu sisi.
6) Kulit tipis dan transparan, lanugo banyak, lemak subkutan kurang, sering tampak peristaltik usus.
7) Tulang rawan dan daun telinga imatur.
8) Puting susu belum terbentuk dengan baik.
9) Pergerakan kurang dan lemah.
10) Reflek menghisap dan menelan belum sempurna.
11) Tangisnya lemah dan jarang, pernafasan masih belum teratur.
12) Otot – otot masih hipotonis sehingga sikap selalu dalam keadaan kedua paha abduksi, sendi lutut dan pergelangan kaki fleksi atau lurus.
13) Genetalia belum sempurna, labia minora belum tertutup oleh labia mayora (pada wanita), dan testis belum turun (pada laki laki).
b. Tanda – tanda pada Bayi Dismatur
1) Preterm sama dengan bayi premature
2) Term dan post term :
a. Kulit pucat atau bernoda, keriput tipis.
b. Vernik caseosa sedikit / kurang atau tidak ada.
c. Jaringan lemak di bawah kulit sedikit.
d. Pergerakan gesit, aktif dan kuat.
e. Tali pusat kuning kehijauan.
f. Mekonium kering.
g. Luas permukaan tubuh relatif lebih besar dibandingkan BB.
4. Klasifikasi BBLR
Berdasarkan BB lahir
· BBLR : BB < 2500gr
· BBLSR : BB 1000-1500gr
· BBLASR : BB <1000 gr
Berdasarkan umur kehamilan
1. Prematur
Adalah bayi lahir dengan umur kehamilan kurang dari 37 minggu dan mempunyai berat badan sesuai dengan berat badan untuk masa kehamilan atau disebut Neonatus Kurang Bulan – Sesuai Masa Kehamilan ( NKB- SMK).
2. Dismaturitas.
Adalah bayi lahir dengan berat badan kurang dari berat badan seharusnya untuk masa kehamilan, dismatur dapat terjadi dalam preterm, term, dan post term. Dismatur ini dapat juga Neonatus Kurang Bulan – Kecil untuk Masa Kehamilan (NKB- KMK), Neonatus Cukup Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NCB-KMK ), Neonatus Lebih Bulan-Kecil Masa Kehamilan ( NLB- KMK )
HIPO / HIPERTERMI
1. Pengertian hipotermi / hipotermia
Bayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan dibawah normal. Adapun suhu normal bayi adalah 36,5-37,5 °C. Suhu normal pada neonatus 36,5-37,5°C (suhu ketiak). Hipotermi merupakan salah satu penyebab tersering dari kematian bayi baru lahir, terutama dengan berat badan kurang dari 2,5 Kg.
Bayi – bayi yang sangat rawan terhadap hipotermi yaitu :
a. Bayi kurang bulan / premature
b. Bayi berat lahir rendah
c. Bayi sakit
2. Etiologi hipotermi / hipotermia
· Jaringan lemak subkutan tipis.
· Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar.
· Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.
· BBL (Bayi Baru Lahir) tidak mempunyai respon shivering (menggigil) pada reaksi kedinginan.
· Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang beresiko tinggi mengalami hipotermi.
· Ketika bayi baru lahir tidak segera dibersihkan, terlalu cepat dimandikan, tidak segera diberi pakaian, tutup kepala, dan dibungkus, diletakkan pada ruangan yang dingin, tidak segera didekapkan pada ibunya, dipisahkan dari ibunya, tidak segera disusui ibunya.
· Bayi berat lahir rendah yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg atau bayi dengaan lingkar lengan kurang dari 9,5 cm atau bayi dengan tanda-tanda otot lembek, kulit keriput.
· Bayi lahir sakit seperti asfiksia, infeksi sepsis dan sakit berat.
3. Tanda dan gejala hipotermi / hipotermia
· Suhu <36°C
· Kaki dan tangan bayi teraba lebih dingin dibandingkan dengan bagian dada
· Aktivitas berkurang
· Kemampuan menghisap lemah
· Tangisan lemah
· Ujung jari tangan dan kaki kebiruan
4. Komplikasi hipotermi / hipotermia
· Aritmia jantung
· Edema paru
· Perdarahan saluran cerna
· Akut tubular nekrosis
· Asidosis metabolic
· Trombosis intravascular
5. Upaya pencegahan
· Ruang bersalin yang hangat
· Pengeringan bayi segera setelah lahir
· Kontak kulit dengan kulit
· Pemberian Air Susu Ibu
· Menunda memandikan & Mmenimbang bayi
· Pakaian & selimut yang tepat
· Rawat gabung
· Resusitasi hangat
· Pelatihan dan sosialisasi rantai hangat
Hipotermi Sedang (32 – 25,9 )
· Pakaian hangat, topi, serta selimut yang hangat
· ASI dan perawatan bayi lekat apabila dimungkinkan. • Gunakan inkubator / radiant warmer
· Periksa kadar gula darah , terapi hipoglikemia sesuai indikasi
· Pengawasan dan penanganan segera adanya tanda-tanda kegawatan
· Pantau suhu tubuh bayi setiap jam :
Bila suhu naik minimal 0,5 / jam, lanjutkan memeriksa suhu setiap 2 jam
Bila suhu tidak naik / naik terlalu pelan kurang dari 0,5 /jam, penanganan kearah sepsis.
· Setelah suhu normal :
Lakukan perawatan lanjutan
Pantau bayi selama 12 jam berikutnya, periksa suhunya setiap 3 jam.
Hipotermi Berat :
· Segera hangatkan bayi dibawah radiant warmer, rawat di dalam incubator
· Pakaian yang hangat, topi
· Pasang jalur IV pemberian cairan sesuai kebutuhan, dengan pipa infus terpasang dibawah pancaran panas, untuk menghangatkan
· Periksa kadar gula darah , terapi hipoglikemia sesuai indikasi
· Pengawasan dan penanganan segera adanya tanda-tanda kegawatan
· Pemberian antibiotika
· ASI / menyusu ibu apabila memungkinkan
· Pantau suhu tubuh bayi setiap jam, apabila terdapat kenaikan paling tidak 0,5 / jam lanjutkan dengan memeriksa suhu tubuh bayi setiap 2 jam
· Setelah suhu tubuh bayi normal , lakukan perawatan lanjutan untuk bayi
DETEKSI DINI PADA KASUS ASFIKSIA DAN GANGGUAN NAPAS PADA BBL
1. Pengertian
Asfiksia adalah keadaan dimana bayi baru lahir tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur. Bayi dengan riwayat gawat janin sebelum lahir, umumnya akan mengalami asfiksia pada saat dilahirkan. Masalah ini erat hubungannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat, atau masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan (Asuhan Persalinan Normal, 2007).
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah lahir.
2. Etiologi
Beberapa faktor tertentu diketahui dapat menjadi penyebab terjadinya asfiksia pada bayi baru lahir, diantaranya adalah faktor ibu, tali pusat clan bayi berikut ini:
1. Faktor ibu
a) Preeklampsia dan eklampsia
b) Pendarahan abnormal (plasenta previa atau solusio plasenta)
c) Partus lama atau partus macet
d) Demam selama persalinan Infeksi berat (malaria, sifilis, TBC, HIV)
e) Kehamilan Lewat Waktu (sesudah 42 minggu kehamilan)
2. Faktor Tali Pusat
a) Lilitan tali pusat
b) Tali pusat pendek
c) Simpul tali pusat
d) Prolapsus tali pusat
3. Faktor Bayi
a) Bayi prematur (sebelum 37 minggu kehamilan)
b) Persalinan dengan tindakan (sungsang, bayi kembar, distosia bahu, ekstraksi vakum, ekstraksi forsep)
c) Kelainan bawaan (kongenital)
d) Air ketuban bercampur mekonium (warna kehijauan)
3. Klasifikasi
Asfiksia Neonatorum dapat dibagi dalam tiga klasifiasi:
1. Asfiksia neonatorum ringan : Skor APGAR 7-10. Bayi dianggap sehat, dan tidak memerlukan tindakan istimewa
2. Asfiksia neonatorum sedang : Skor APGAR 4-6. Pada pemeriksaan fisik akan terlihat frekuensi jantung lebih dari 100/menit, tonus otot kurang baik atau baik, sianosis, reflek iritabilitas tidak ada.
3. Asfiksia neonatorum berat : Skor APGAR 0-3. Pada pemeriksaan fisik ditemukan frekuensi jantung kurang dari 100/menit, tonus otot buruk, sianosis berat, dan kadang-kadang pucat, reflek iritabilitas tidak ada, pada asfiksia dengan henti jantung yaitu bunyi jantung fetus menghilang tidak lebih dari 10 menit sebelum lahir lengkap atau bunyi jantung menghilang post partum pemeriksaan fisik sama asfiksia berat.
4. Tanda dan gejala
· Tidak bernafas atau bernafas megap-megap
· Warna kulit kebiruan
· Kejang
· Penurunan kesadaran
· DJJ lebih dari 160x/mnt atau kurang dari l00x/menit tidak teratur
· Mekonium dalam air ketuban pada janin letak kepala
Komentar
Posting Komentar